Halo!
Kami adalah sekumpulan mahasiswa arsitektur di Bandung yang senang menulis dan merangkai kata.
silahkan klik 'submit' di bagian kiri untuk menulis apapun yang ingin kamu tulis.
feel free to follow us and join the wordplay!
Ada banyak faktor kenapa pengetahuan yang di dapat tiap mahasiswa Arsitektur ITB di angkatan saya (sekarang tingkat dua) tidak sama. Ada yang salah dengan kurikulum program studi sarjana Arsitektur ITB. Yah setidaknya, itu yang saya rasakan sekarang, terutama di semester ini. Saya tidak mendapat pembelajaran seperti yang seharusnya saya dapat.
Jadi begini, pendidikan Arsitektur dari jaman Bauhaus sudah menjadi sistem yang baku. Kami mendapat ilmu dari kelas-kelas yang kami ambil. Tentang teori Arsitektur, bagaimana cara merancang yang baik, sejarah Arsitektur, ilmu struktur dan konstruksi, dll. Ilmu yang sudah kami dapat, kami terapkan di tugas-tugas Studio Perancangan. Seharusnya sih begitu.
Kenyataannya, sistem itu tidak berjalan dengan baik di Labtek IXB ini. Ada satu alasan utama yang membuat saya bisa berbicara begini yaitu tidak adanya kerja sama antara dosen mata kuliah di kelas dengan koordinator studio. Akibatnya, ilmu dari studio overlap dengan ilmu dari mata kuliah lain, atau bahkan ilmu yang seharusnya saya dapat dari mata kuliah lain malah saya dapat lebih dulu di studio. Contoh, saya mendapat ilmu tentang metode perancangan di kuliah pengantar studio, padahal saya mengambil mata kuliah Pendekatan dan Metode Perancangan semester ini. Saya mendapat ilmu tentang bagaimana Le Corbusier merancang bangunan free facade di kuliah pengantar studio padahal saya sudah mendapatkan itu di Arsitektur Modern—yang juga saya ambil semester ini. Yang paling parah adalah pengetahuan saya tentang struktur dan konstruksi yang biasanya saya dapat dari diskusi dengan teman-teman saya, bukan dari mata kuliah 3 SKS yang saya ambil semester ini, Struktur, Konstruksi, dan Bahan II atau dari dosen pembimbing studio saya.
Dari mata kuliah SKB II, yang saya dapat kebanyakan hanya teori tentang bagaimana struktur yang baik. Hal-hal teknis yang penting seperti bagaimana menentukan ukuran balok dan kolom bangunan tidak pernah diajarkan di kelas ini. Semester lalu, salah seorang dosen yang ahli di bidang struktur dan concern dengan ketidaktahuan kami, Pak Bambang Totopambudi, sampai berinisiatif mengadakan kelas khusus untuk mengajarkan kami tentang bagaimana membuat pondasi batu kali, bagaimana membuat sloof, dll. Semester ini, pengetahuan teknis itu didapat juga dari kuliah pengantar studio dari dosen lain yang juga ahli di bidang struktur, Pak Hidayat Amir.
Yang menyedihkan, bahkan saat mengajarkan kami soal pondasi di kelas, dosen SKB bertanya pada kami, “Kalian sudah dapet ini kan di studio?”. Saya kesal mendengarnya. Di kelas pengantar studio, koordinator studio (yang juga dosen pembimbing saya) mengatakan dia tidak peduli kalau kuliah pengantar overlap dengan SKB, dia cuma memberikan ilmu yang dia rasa perlu. Jadi ini tanggung jawab siapa, dosen studio atau dosen mata kuliah SKB? Kenapa jadi lempar-lemparan begini?
Pak Bambang Totopambudi dan Pak Hidayat Amir, dosen senior yang ahli di bidangnya, tidak diperkenankan mengajar di mata kuliah SKB karena pendidikan resmi yang mereka terima hanya sampai tingkat sarjana, walaupun ilmu yang mereka dapat di lapangan sudah sangat banyak dan diakui oleh dosen-dosen lain. Mereka hanya mengajar SKB sampai angkatan 2006.
Nyatanya, dosen kami sekarang, yang sudah bergelar doktor tidak bisa menyampaikan ilmu yang kami perlukan seperti yang mereka sampaikan di kelas pengantar studio. Yang saya pertanyakan adalah : kalau ada dosen yang lebih kompeten, kenapa harus dilarang mengajar kalau pada akhirnya ilmu yang kami dapat berasal dari dosen itu sendiri?
Saya merasa diperlakukan dengan tidak adil di sini, itu saja. Ingin marah, tapi tidak tahu harus disampaikan ke siapa, jadi saya tulis di sini saja. Toh saya sudah mau naik tingkat, jadi sudah terlambat sebenarnya untuk protes. Yang saya pingin sih junior saya tidak mendapat perlakuan seperti ini lagi. Sistem yang ada harus diubah. Sudah, itu saja. Sekian dan terima kasih.
-sur:
“Kuliah dimana?”
“ITB.”
“Jurusan?”
“Arsitektur.”
“Hebat! Yang bikin gambar-gambar bangunan ya. Luar biasa. Bisa bikin gedung-gedung yang wah!”
Apakah dialog di atas terasa familiar? Ya, pasti sekali dua kali dialog ini dialami oleh sebagian besar mahasiswa arsitektur….
sebuah tulisan yang kurang pantas untuk tidak diapresiasi. :)
ke morfosismenulis@gmail.com atau submit ke sini!
oleh: Sri Suryani G 08 Hari ini Kamis. Hari ke empat dalam minggu ini, dimana selain Senin saya akan bertemu dengannya. Dengan segudang tanda tanya. Tik tok tik tok. Di saat jarum menunjuk ke angka satu, di studio lantai 6, di sana ia muncul. Setelan kemeja putih dan celana panjang bahan rapih seperti biasa. Wajah segar, tubuh tambun yang sama. Langkah-langkah panjang, cepat, tegap, dan pasti. Ya, dari figurnya saja Pak Jimmy Purba memang berbeda. Saya buru-buru membereskan kertas coret-coretan sketsa dan render. Terlihat ia membawa lembaran kertas padalarang di tangannya. Oh, great. Sketsa masjid Salman kemarin. “Oke. Saya ingin mereview sebentar hasil sketsa lapangan minggu lalu. Hmm, coba kita lihat…” ia mengambil kursi dan duduk di meja yang kosong. Segera saya dan teman-teman mengelilinginya. “Irma, kamu punya karakter render yang kuat sekali, ya. Garang dan tebal. Dengan goresan..” ia mulai memaparkan evaluasi teknik gambar, sudut pandang, dan distorsi atau tidak sketsa yang ada di tangannya. Dosen yang berdarah Batak ini selalu punya kosakata yang baik dan bisa melihat potensi masing-masing mahasiswa bimbingannya. Terlihat bagaimana ia mendorong Irma untuk meningkatkan kemampuan karakter sketsa ‘garang’ sebagai senjata. “Yang ini.. Sri?” Saya terperanjat, seketika mengangguk dan melihat kertas sketsa saya yang kini berada tangannya. “Kamu ini… wanita halus.” “HA?” saya bingung. Wanita halus? “Ya. Wanita halus. Goresan dan render dari sketsa yang ada halus sekali. Seperti lukisan hitam putih saja.”ujarnya sambil menatap ke arah saya. Saya mencoba tersenyum, mengangkat alis. Teringat bagaimana kerja keras selama dua jam saat menciptakan sketsa yang lebih ‘keras’. Hasilnya nihil. Kemudian ia menjelaskan bagaimana kali kedua sketsa lapangan ini, lagi-lagi sketsa saya tetap terlihat halus seperti biasa, namun kali ini dengan peningkatan kualitas ruangnya, gelap terang dan tekstur. “Tapi, “tiba-tiba Pak Jimmy menambahkan, “Saya rasa itu memang ciri khas kamu. Yang penting adalah bagaimana kebenaran gambar, yang saya rasa sudah tidak ada masalah.” ia tersenyum. Saya menghela napas lega. Sejak saat itu, saya sudah melihatnya. Samudra yang luas tak terbatas dengan buih dan ombaknya tersendiri. Saya telah menemukan laut itu. Yang sebelumnya terombang ambing dalam gelap. Sejujurnya arsitektur adalah sepuluh rangkaian huruf yang sama sekali asing bagi saya. Hanya bermodalkan hobi menggoreskan pensil alias menggambar sejak kecil, saya nekat saja memilihnya untuk kuliah. Sungguh beruntung, saya mendapatkan pencerahan itu lewat dosen pembimbing yang pertama. Seorang yang profesional dalam bidangnya yang mampu memompa semangat. Seorang yang tepat. Masih segar dalam benak, ketika Pak Jimmy yang selalu tepat waktu dan disiplin datang terlambat karena harus mengantarkan anaknya. Atau ketika salah seorang teman saya ditegur karena membuat sketsa desain di kertas yang tidak layak. Atau dengan segera ia memberikan banyak referensi yang berguna dan memperkaya desain saya. Glenn Murcut, Peter Bohlin, James Cutler, Romo Mangun adalah nama-nama arsitek yang pertama bergema di telinga saya karena beliau. Proses desain, presentasi gambar, kekuatan ide dan originalitas adalah hal yang penting yang juga diajarkan oleh beliau. Bahwa desain adalah satu hal yang luar biasa, luas, unlimited, dan di sana terletak titik ketuhanan pada seorang arsitek untuk mencipta. Maka, apakah setahun awal itu penuh perjuangan? Ya. Sulit? Tidak. Berkat bimbingan seorang yang hebat. Pak Jimmy dengan senyum khasnya yang segar, mengarahkan saya dalam setiap goresan halus yang tercipta. Mendorong saya untuk tetap bertahan bahkan berkembang dengan berada di jalur ini, arsitektur, dengan segala modal dan kemampuan yang saya miliki. Saya bersyukur takdir mempertemukan saya dengannya. Segala nilai-nilai dasar tentang pembelajaran arsitektur lengkap sudah. Kini, saya percaya akan bisa melalui ini semua jika saya mau berusaha. Tepat seperti yang dikatakan oleh Pak Jimmy di suatu siang sebelum pengumpulan tugas terakhir mendesain Workpod; “Jika kamu memberikan yang terbaik, saya juga tidak ragu memberikan penilaian yang terbaik.” Terima kasih yang tak terbatas pada Pak Jimmy, sukses selalu untuk bapak. AR 1100, 1200 Sri Suryani 15207072 Dosen Pembimbing: Jimmy Purba, ST., MT *ini adalah tulisan sederhana bentuk apresiasi saya kepada pahlawan-pahlawan saya selama kuliah arsitektur. Terima kasih atas bimbingan Bapak, semoga bisa menjadi kebanggan dikemudian hari :)

arshivan11: hai morfosis... mau nanya deh, kalo sebagai penulis, kan seneng nulis, tapi juga seneng kalo dibaca banyak orang. saya suka nulis karena dua2nya. :p nah saya teh sebagai penulis kadang suka banget nulis pake kata2 yang abstrak dan gak banyak yang ngerti, makanya jadi jarang yang baca. kadang kalo saya membuat sesuatu yang banyak orang baca (meyesuaikan dengan apa yang orang2 suka), saya kadang suka gak puas dengan kontennya (soalnya maksain ke selera orang). kalo menurut anda semua gimana? dahuluin yang mana sebagai penulis?
halo oje,
kata Stephen King, “If the stuff you’re writing is not for yourself, it won’t work.”
dengan kata lain, kamu harus suka dulu dengan tulisan itu, baru selanjutnya orang lain akan suka sama tulisan tsb. karena suka-gak-suka tergantung selera, dan kamu gak bisa maksain seseorang untuk suka. sebaiknya terus publish tulisan kamu seluas-luasnya, nanti akan ada orang2 tertentu yang suka. ini dalam hal tulisan sastra, fiksi, opini/kritik.
tapi kalo soal tulisan jurnalistik, karena biasanya sudah menurut aturan tertentu, kemungkinan besar tulisan kamu akan banyak dibaca, dan kamu dituntut untuk menulis sesuatu dengan bahasa yang lebih gamblang dan informatif.
ini cuma pendapat admin yang ilmunya gak seberapa, cmiiw. pendapat lain terbuka untuk dituturkan.
oleh: Rofianisa G’08
*
diam mungkin adalah emas, tetapi kata adalah intan
bersama alunan suku-sukunya ia mengalir deras
mengucap janji, menguar tawa, merangkai bela
menapaki masa penjenjangan Gunadharma
*
waktu mungkin adalah uang, tetapi keluarga tak bisa dilelang
kebahagiaan dan mimpi yang dijalin bersama,
tak terbayar, tak ternilai
asa terkait pilihan hati, kepada siapa kita berpulang nanti
*
cinta mungkin adalah karunia, tetapi persahabatan begitu berharga
dan apalah artinya bekerja tanpa sepeser harta
melainkan karena rasa dan percaya
karena bangga, bahwa yang kita hasilkan adalah hanya dan hanya milik kita
*
tengadah ke langit, Gunadharma
rasakan bintang yang tertutup debu metropolitan di atas sana
darinya kita belajar bahwa visi bukan sesuatu yang hanya terlihat di depan mata
walaupun jauh, ia berkelip bercahaya
walaupun jauh, ia ada
*
subuh itu, peluh dan keluh kita meluruh
berganti menjadi gumaman senada hymne Gunadharma
api berkobar, hati yang tulus pasti tersentuh
formalitas berakhir, namun awal dari segala yang lebih nyata
*
tatap kawanmu, Gunadharma
di pundak setiap mereka, dan kau juga aku, beban terbagi rata
janji yang diucap bukan sekedar kata-kata
realisasi, jadikan karya nyata
jadikan Gunadharma bangga kita pinjam namanya
*
untuk keluarga baruku tercinta, IMA Gunadharma 2010
Bandung, 4 Oktober 2010
2.20 am
ini pernah di-request sama ganesh waktu G 10 mau pelantikan, biar G 10 lebih semangat lagi untuk beraktivitas di himpunan.
nah, kalo kalian bosan yang nge-post di sini itu2 doang orangnya, ayo kirim tulisan APAPUN ke morfosismenulis@gmail.com atau submit langsung ke siniii!
ditunggu banget yaaa!
oleh: Sri Suryani G’08
Seorang gadis melangkah malam-malam. Drap-drap-drap, hah-hah-hah- Ia terengah-engah memikul beban tas di bahu yang berisi tisu, sampo, sabun, air mineral, susu, dan odol. Jaketnya yang panjang hampir mengenai lutut terombang-ambing diantara derap kakinya yang besar-besar. Tubuhnya kurus dan ringkih, seakan ia dapat tumbang saat itu juga. Wajahnya tirus, ketika itu terlihat semakin tirus karena menunduk dalam. Kemurungan menghantui wajah itu, seakan mebuat tubuh kurus pun membungkuk.
Langkah kakinya terhenti di depan sebuah rumah makan. Ia menatap sejenak makanan di balik kaca bening dan menimbang-nimbang. Tak lama kemudian, ia memutuskan masuk dan mengambil piring untuk menyiapkan makanan. Rumah makan itu hampir kosong. Selain ibu penjaga kasir yang sudah tua (namun terlihat cekatan) dan seorang gadis muda disebelahnya (mungkin anaknya) hanya terdapat 2- 4 orang yang sedang makan. Namun, si Gadis tak peduli. Ia memilih duduk di seberang meja kasir dan memulai ritual makan malamnya. Dua centong nasi, sebutir telur, dan dua centong sayur.
Si Gadis baru akan menyendok nasi, ketika tiba-tiba (hyuuu) sesuatu terbang dan mendarat di meja makannya. Seekor serangga. Serangga itu mendarat terselip di bawah piring. Kening si Gadis seketika berkerut. Ia tidak takut serangga, jujur saja, dan tidak mau ambil pusing. Tapi makan di atas serangga rasanya tidak enak, pikirnya. Si Gadis pun menggeser piring dan pindah satu tempat duduk ke sebelah kiri. Kini ia dapat melihat serangga itu dengan lebih jelas. Ukurannya sebesar kuku jempol, berwarna biru dongker, dan berkaki enam. Tak ada lagi yang bisa digambarkan. Si Gadis pun mulai melahap makan malamnya sambil sesekali melirik si Biru Dongker.
Baru beberapa suap, si Gadis mulai memperlambat makannya. Ia pun menatap si Biru Dongker, mengerutkan kening. “Kenapa kamu tidak terbang lagi?” Ia bertanya dalam hati. Tak ada jawaban, tentu saja. Si Gadis menunjuknya dengan sendok. “Baiklah mungkin Tuhan mengutusmu menemaniku makan malam ini. Aku tak keberatan. Lagi pula tidak seru makan sendirian.”ujarnya menyimpulkan.
Sayup-sayup terdengar musik teralun di udara. Seorang penyanyi tua tahun 80an mengisi sedikit keheningan yang ada. Sementara itu, Si Gadis melihat pasangan di pojok kanan di seberangnya. Mereka tertawa, bercanda satu sama lain. Seketika si Gadis menoleh, menatap si Biru Dongker sambil tersenyum samar. Ia mengerucutkan bibir, “Kalau kau manusia, ” ia mengamati ruas-ruas kaki yang tipis kecoklatan, “Mungkin kau adalah seorang laki-laki berkulit gelap dengan kemeja biru dongker. Hmm.. Tidak begitu menawan, tapi cukup intelek.”
Si Biru Dongker tidak bergerak sedikitpun. Hanya antena kecilnya yang berkedut-kedut. Si Gadis mengambil tisu kemudian dipelintirnya. Dengan tisu itu Si Biru Dongker tergerak mendekat karena terdorong tanpa perlawanan. Si Gadis termenung menatapnya. Setelah diperhatikan, ternyata sebelah ruas kakinya lebih lurus menekuk ketimbang yang lain. Ia menghela napas, “Kau juga sakit ya?” tisu kembali mendorong, mendekat, “Karenanya kau tidak bisa terbang lagi- bahkan berjalan pun tidak?”
Hening menyergap mereka berdua beberapa saat. Si Gadis meneruskan makan dan si Biru Dongker tertegun dalam diam. Masing-masing seakan berdialog melalui benang tipis yang terhubungkan diantara keduanya. Dalam kemurungan dan kesendirian yang dalam.
“Pernahkah kau berpikir seakan kau tak pantas hidup?”
Si Gadis meraih gelas berisi air teh di sampingnya, meneguknya sekali. Si Biru Dongker tak bergerak.
“Terkadang, ada saat-saat dimana aku mendapatkan pertanyaan seperti itu. Di sela-sela nafasku. Di celah kedip mataku. Yah, seperti; Mengapa aku mendapatkan semua ini? Apalagi rencana-Nya kali ini?”
Clang- clang- suara sendok beradu dengan piring. Empat orang datang mengisi meja di seberang mereka. Dua laki-laki dan dua perempuan. Suara knalpot motor dan orang lalu lalang di luar bersahutan. Tak satu pun mengusik dialog yang telah terjadi.
“Sakitku ini..” Si Gadis meneruskan, “Seakan tak kunjung berakhir. Seakan selamanya. ‘Apakah aku memang tak pernah bisa belajar?’ tanya otak kiriku. ‘Apakah aku memang orang yang tidak beruntung?’tanya otak otak kananku.” Ia tersenyum samar lalu menoleh, “Mereka terus berwacana di kepalaku. Terus menerus. Sampai isi kepalaku penuh dan mau pecah. Apa kau juga memilikinya? Hmm.. mungkin kau tidak punya dua belahan otak ya.”
Kembali Si Biru Dongker terdiam, tak bergerak. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing untuk beberapa saat. Yang ada hanya suara percakapan orang sekeliling dan deru kendaraan yang melaju membelah malam yang sepi. Di atas meja, nasi itu hanya tinggal separo, begitu pula telur dan sayurnya. Si Gadis memang tidak ingin terburu-buru. Tidak untuk malam kelam ini.
“Karenanya aku selalu merasa lemah. Karenanya aku selalu menyibukkan diri. Dan setelah sekian lama, aku menyadari bahwa aku tidak juga bertambah kuat. Lantas apa? Hanya lelah tak berkesudahan.” tisu kembali terulur, mendorong si Biru Dongker bergerak. “Sampai pada titik pantaskah aku hidup? Setelah ini apa lagi yang akan tertimpa padaku? Tak bisakah aku belajar? Apa yang ku inginkan di dunia yang kejam ini?”
Seyuman tiba-tiba muncul di bibir si Gadis. Ia kembali menyendok makanan dan mengunyahnya pelan-pelan. “Enam bulan.” Ia meggelengkan kepala, “Enam bulan penentuan. Bukan waktu yang singkat. Tentu saja, dengan pil-pil besar itu, lidah yang kelu, air yang pahit, kepekatan seni, dan tulang-belulang yang makin menonjol. Dan konsekuensi gerusan tekanan batin yang selalu muncul kala lembar demi lembar terbuang, bahkan hingga detik ini.”
“Hei,” si Gadis menyeruput tehnya, “Bukankah di saat-saat seperti ini selalu terlintas tentang kematian?”
Tak ada jawaban. Si Gadis mengangkat bahu, “Aku tak pernah berpikir tentang mati muda, walaupun beberapa orang memilih untuk itu. Chairil, Gie, mereka seakan mati di klimaks kehidupan usia muda. Haha, tentu saja aku tak bisa disamakan dengan mereka. Tapi-” ia menopang dagu, “Toh gelandangan itu akan tetap tidur di kolong jembatan, banci itu akan tetap mengamen di perempatan, klakson akan terus hingar bingar di jalan. Matahari terbit tenggelam. Orang-orang di sekitarku akan tetap seperti biasa. Kematian itu… rasanya hampa.”
Kembali mereka tenggelam dalam keheningan malam. Suara penyanyi 80an itu masih terdengar, kini dengan lagunya yang lain. Tak ada pengunjung datang. Lilin di meja sesekali bergoyang tertiup angin yang berhembus pelan.
“Kalau dipikir-pikir. Itulah yang terjadi ketika mata ini fokus melihat. Tapi antithesis, infokusnya..” si Gadis melipat kedua tangan, menatap kuda-kuda kayu hitam di atasnya, “Berapa banyak hal berharga yang ditinggalkan? Berapa botol tinta yang telah kau torehkan? Berapa juta pagi menakjubkan dan malam magis yang kau lewatkan? Tawa dan senyum lepas serta kebahagiaan bersama orang-orang terdekat?” Setitik kaca muncul di mata sayunya, “Seorang manusia dengan kesombongannya tidak akan mengubah dunia. Yang ia perlukan hanya satu hari saat dimana ia bisa menikmati kehidupannya. Sepahit apapun itu. Iya, kan?”
Si Biru Dongker bergeming. Si Gadis menatap ke arahnya. Beberapa waktu berlalu, mereka hanya saling berhadapan satu sama lain. Malam makin beranjak larut. Piring telah kosong. Si Gadis mengambil tisu lagi, kali ini untuk mengelap bibirnya. Kemudian ia berdiri, mengambil tas berisi belanjaan, siap beranjak dari meja itu.
“Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi.”Ia berkata lirih, “Kalaupun itu terjadi, aku berharap kakimu sudah seperti sedia kala. Begitu pula harapku akan diriku.” Setelahnya ia bergerak ke kasir dan membayar makanan. Tanpa menoleh, ia pun melangkah pergi. Meninggalkan segala tanda tanya kecil maupun besar, jawaban dan pernyataan berceceran di atas meja makan itu bersama dengan serangga biru dongker di atasnya. Tak lama, muncul segaris senyum dan satu bisikan tulus, “Terima kasih telah menemaniku malam ini.”
They’re taking adventure to the new lengths
Baru nonton film ini kemareen!! Hehehehe.. Dari awal liat trailernya saya langsung jatuh cinta, apalagi saat saya mengetahui bahwa pengisi suaranya adalah my Zachary Levi!! Dang!! I can’t wait for this movie :) Si my lovely Zachy ini lucunya luar biasa pas main di Chuck, apalagi kalo film kartun. Pasti Kaboom ;)
Awal nontonnya saya khawatir, soalnya film ini ditampilkan dalam bentuk 3D. Worth it gak ya? Avatar yg Gaul bgt aja saya ambil yg biasa, masa sih Tangled yang kartun “ala” Disney ini harus 3D. Tapi karena saya sudah kebelet denger suara Zachy, akhirnya saya kekeuh nonton :)
Dibuka dengan castle disney dan kmbang apinya saya sangatlah tidak sabar. Layaknya bocah kecil yang haus akan gula - gula dan balon, SAYA SANGAT ANTUSIAS!!
Ceritanya dibuka seperti pemaparan sebuah legenda, dimana diceritakan ada seorang penyihir jahat bernama mother gothel yang sangat ingin tetap muda pergi kesebuah bukit untuk mencari setangkai bunga ajaib yang bisa membuat seseorang tetap muda dan sehat. Namun disaat bersama sang ratu sedang sakit dalam keadaan hamil. Seluruh rakyat membantu raja mencari bunga ajaib ini. Bunga ajaib ditemukan, sang ratu sembuh dan putri kecil mereka lahir dengan sehat. Namun yang aneh bayi mungil ini berambut pirang bersinar. Usut punya usut khasiat bunga itu sudah ditransfer pada putri kecil mereka, Rapunzel. Mengetahui rapunzellah sekarang yang bisa membuatnya awet muda, Mother Gothelpun menculik Rapunzel.
* * *
18 tahun Rapunzel hilang dari istana. Dengan harapan Rapunzel akan menemukan jalan kembali untuk pulang, Raja dan Ratu menerbangkan lentera yang diikuti rakyatnya setiap tahunnya dihari ulang tahun Rapunzel. Dan 18 tahun itu pula ternyata Rapunzel selalu melihat ribuan lentera dari menara tempat ia disembunyikan. Diusianya yang ke 18nya ini pula Rapunzel bertemu dengan seorang pencuri yang lucu :3 (Kyaaaa!!Zachyyyy!!), Ryder yang ternyata bernama asli Eugene. Dan pada akhirnya Eugenelah yang menemani Rapunzel berpetualang mengejar mimpi - mimpinya.
* * *
Over all filmnya super duper sweet. Apalagi pada dasarnya saya adalah pecinta, penggemar, penggila film kartun disney yang sangatlah manis penyajiannya :) Sayangnya film ini kurang worth it ditonton dalam bentuk 3D. Bukannya jelek..agak berlebihan aja :D
oleh: Puspita Handayani G’09
oleh: Sri Suryani G’08
Bukan asoka
yang harum semerbak kala hujan
Bukan sedap malam
yang wangi menyeruak kala gelap
Rumput liar
hanya berdiri tak berdusta
Menantang langit
Melawan musim
Jauh dari elok kemayu
Dekat dengan duri ilalang
Berkawan dengan cacing dan tanah merah
Rumput liar
Takkan layu terinjak
Takkan mati tercabut
Walau tergerus waktu
Walau tertempa badai
Mereka hidup!
‘Hanya Tuhan boleh tindas kami, itu pun kalau mau.’